?

Log in






Author : Haru Yamada .

Genre : Vampire .

CAST : Runacathra Fukuzawa As Yamashita Haruna .
             Seihan Kojichiru As Melinda Anindya .
             Miura Udagaki as Yabu Kouta ,
             Riiku Fukuzawa as Sakurai Sho .
             Yamada Ryosuke as Himself .
             Merlion Jurotsuchi as Chinen Yuri .
             Rolfer Yamada as Keito Okamoto .
             Mariya Matjishi as Nishiuchi Mariya .

                                                         

2nd Rules of Seven Rules
"Vampire can't kill hunter who guard human except hunter avoid the hunter's rules."


When your destiny come to you, you can't run from that.
Although you don't believe it, you must know if you can't change your destiny whatever you do.


Department of Hunter Spy, 8 a.m.


"Jadi apa rencanamu, Miura?" tanya seorang pria berambut hitam di hadapan Miura. Wajah kakunya tersaji di depan Miura dengan angkuh. Mata beriris birunya menatap Miura dengan tatapan menindas. Dia adalah pemimpin Hunter Spy, Jack Bishihana.

"Kau tidak perlu memasang wajah menggelikan semacam itu. Aku sudah kebal," kata Miura dengan nada sambil lalu.

Jack tersenyum sinis. "Jangan membuatku marah , Udagaki. Cepat katakan apa rencanamu !"

Nada memerintah yang tak bisa dibantah mulai keluar dari mulut Jack. Miura hanya mendengus kesal. Ia menyodorkan map biru ke hadapan Jack tanpa rasa hormat sedikitpun.

"Itu surat untuk Dewan Vampir. Itu langkah pertamanya . Langkah seterusnya belum ditentukan karena menunggu reaksi Dewan Vampir terlebih dahulu."

"Apa maksudmu? Memangnya kertas ini bisa memberi efek apa pada mereka, hah? " tandas Jack tanpa ampun. Ia menatap Miura dengan garang. Ia merasa dipermainkan dengan rencana konyol Miura.

"Sudahlah. Ikuti saja apa rencanaku. Semua resiko biar aku yang menanggung," kata Miura cepat.

Jack hanya menghela nafas panjang. Ia masih ragu untuk menyetujuinya. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Pemerintah harus konsisten dalam menangani kasus apapun termasuk kasus ini. Kejahatan ini tergolong kejahatan besar dan pemerintah tidak akan setuju jika kasus ini tidak segera ditangani. Apalagi Perdana Menteri sudah memintanya untuk menyelesaikan kasus ini sampai tuntas.

"Huh, baiklah. Lakukan sesukamu." Jack mengembalikan map yang tadi diberikan kepadanya. Kembali pada pemiliknya.

"Siapa yang kau pilih untuk ke sana? Tidak mungkin kau ke sana sendirian?"

Miura tersenyum puas. "Tentu saja aku akan mengajak beberapa orang. Aku tidak akan berani ke sana sendirian. Tempat itu menakutkan walaupun Dewan akan menjamin keamananku di sana."

"Ck. Tentu saja Dewan Perwakilan Vampire akan menjamin keselamatanmu. Jadi siapa yang kau ajak? " Jack hanya menggeleng kesal. Semua orang juga tahu kalau Dewan Perwakilan vampir akan menjaga keselamatan tamunya. Bagaimana pun juga manusia tetap relasi berharga bagi mereka.

"Rave Kunihonshou dan Runacathra Fukuzawa."

"Fukuzawa? Maksudmu anaknya Riku Fukuzawa? Kau gila!"



The Boundary of Sorrowforest, 11.00  p.m.



"Aku dengar kau akan ke Kerajaan Vampir dengan Rave senpai dan Udagaki sensei. Benar tidak?" tanya Seihan . Ia dan Runa sedang bertugas di perbatasan hutan Sorrowforest. Mereka berjalan menyusuri pinggiran hutan. Mereka memegang senter di tangan masing-masing.

"Ya. Besok aku berangkat," kata Runa dengan nada sambil lalu. Matanya memandang sekitarnya dengan waspada. Ia menyorotkan senternya ke arah pepohonan lebat di samping kanannya.

"Hah? Besok? Berapa lama? " sahut Seihan dengan cepat. Ia menatap Runa lekat-lekat.

"Tidak lama. Hanya satu atau dua hari. Kami hanya mengantar surat, " jawab Runa. Ia berhenti berjalan secara tiba-tiba . Matanya menangkap setetes darah di atas dedaunan kering.

"Ada apa, Naa-chan?" tanya Seihan heran saat melihat Runa berhenti tiba-tiba. Runa tak menjawab. Ia duduk berjongkok di dekat dedaunan kering , yang ia perhatikan. Sinar senter menyoroti daun yang ada darah di atasnya. Tangannya terulur untuk mengangkat daun itu. Ia membauinya dengan seksama. Jari telunjuk kanannya mencolek sedikit dari volume darah di atas daun.

"Sepertinya ini darah manusia. Masih hangat," kata Runa pelan. Dengan cepat ia menyinari pepohonan di sekitarnya.

"Darah manusia? Apa mungkin ada serangan? " tanya seihan dengan nada khawatir. Ia ikut menyinari pepohonan di sekitarnya dengan senter di tangannya.

"Naa-chan, sepertinya di sana ada sesuatu, " kata Seihan pelan. Ia menyinari dedaunan yang tak jauh dari tempat mereka berada. Runa ikut menyinari tempat yang dimaksud Seihan. Ada siluet sosok manusia di sana. Ia melirik Seihan yang juga sedang meliriknya. Keduanya saling menyunggingkan seulas senyum kecil. Tanpa dikomando, keduanya langsung berlari mendekati sosok itu. Seihan langsung mengecek nadi di leher dan tangan sosok manusia berjenis kelamin laki-laki. Darah sudah berhenti mengalir di tubuh laki-laki itu.

"Dia sudah mati, mungkin-" Seihan menghentikan kalimatnya karena ragu.

"-sudah sejak 5 menit yang lalu," lanjut Runa . Ia menatap luka koyakan di kaki dan tangan korban. Cakaran memanjang juga menghiasi leher korban. Dada korban juga berlubang. Jantungnya menghilang.

"Pelakunya zombie level S." Seihan menyiapkan pisau bedah dari dalam tas kecilnya.

"Zombie itu belum terlalu jauh. Kita harus waspada. Sebaiknya kau bunuh dia secepatnya sebelum dia menjadi zombie level H," jelas Runa. Ia sudah mengeluarkan pistolnya dan mempersiapkan peluru khusus untuk membunuh zombie. Ia sudah bersiap di posisi siaga dan siap menyerang.

"Serahkan padaku," kata Seihan sambil tersenyum lebar. Ia juga sudah siap dengan pisau dan sarung tangan di kedua tangannya. Ia menusuk bagian perut di bawah tulang rusuk terbawah. Menggerakkan pisaunya segaris dengan tulang rusuk lalu ke atas. Darah langsung terciprat keluar. Ia segera mengambil kapsul antibodi yang tadi ia siapkan. Ia membuka tutup kapsul lalu menuangkan isinya tepat ke atas hati korban. Antibodi itu berguna untuk melawan racun zombie yang mulai menyebar di tubuh korban.

Srak!! Runa langsung berdiri dengan mengacungkan pistol ke arah pepohonan di bagian kirinya. Mata jelinya menangkap bayangan di balik pohon. Ia yakin itu zombie. Mayat hidup yang menyukai jantung manusia. Ia melirik Shara. Dengan isyarat mata ia menyuruh Seihan membereskan peralatannya. Seihan mengangguk setelah menerima isyarat selanjutnya bahwa zombie yang ada di dekat mereka tidak hanya satu.

Srek! Dor! Runa langsung menarik pelatuk begitu mendengar gerakan kaki menginjak daun kering. Peluru keperakan meluncur dari moncong pistolnya dengan cepat. Brugh! Satu zombie sudah tumbang di atas tanah. Begitu temannya mati, zombie lain langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Runa langsung menarik pelatuk lagi. Dor! Brugh! Zombie kedua juga tumbang. Dor! Dor! Dua zombie yang tersisa jatuh ke tanah dengan bersamaan.

"Mereka zombie baru. Sangat ceroboh," kata Runa pelan.

"Ya-" Brugh! Tubuh Seihan langsung terjatuh di tanah saat ada yang memukul tengkuknya. Runa langsung berbalik sambil mengacungkan pistol begitu melihat Seihan terjatuh di sampingnya. Mata violetnya menangkap sosok vampir di hadapannya.

"Tenang, Nona. Aku hanya kebetulan lewat," kata vampir berambut hitam sebahu. Mata coklat kemerahannya menatap Runa tanpa minat. Ia sedang berusaha kabur secepatnya. Namun ada yang menghalangi jalannya. Hunter dengan reflek cukup bagus.

Runa mengerutkan keningnya. Matanya menyipit. Memandang vampir itu dengan curiga. "Untuk apa vampir berkeliaran di sini sebelum jam 12 malam? "

Vampir itu tersentak agak kaget. Namun ia segera memasang wajah tenangnya lagi. "Ah, hanya jalan-jalan di hutan."

Alasan konyol untuk membuat Runa percaya. Ia menatap vampir itu dengan tajam. Matanya menyipit ke arah bibir vampir itu. Tidak ada yang aneh sekilas. Namun jika diperhatikan lebih detail, ada noda darah di sana. Hanya sedikit namun cukup membuat Runa curiga. Ia bersyukur bulan bersinar terang malam ini.

"Kau pelakunya kan? " kata Runa dengan nada tajam. Ia tidak bertanya namun menegaskan.

"Pelaku apa? Aku tidak mengerti, " kata vampir itu heran.

"Tidak perlu mengelak. Jadi sudah ada 15 kan? Perlu 84 lagi kan? " pancing Runa dengan nada meyakinkan.

"Apa maksudmu? " tanya vampir itu dengan kesal. Ia mulai terusik dengan penuturan Runa .

"Aku penasaran sejak awal ulahmu . Sebenarnya siapa yang ingin kau hidupkan dengan peleburan ini? " Vampir itu diam dengan wajah mengeras. Reaksi vampir itu membuat Runa senang. Tanpa menunggu lebih lama, ia meneruskan argumennya.

"Kalau dari golongan darah yang kau pilih sepertinya dari klan Kurochiki. Jadi siapa dia ? " Vampir itu menggeram marah. Ia menatap Runa dengan tajam. Iris matanya semerah darah. Ia sedang marah.

"Kau terlalu banyak bertanya, Nona! " Vampir itu bergerak mendekati Runa dengan menyeringai licik. Seringaian yang menunjukkan kedua taring tajamnya. Taring yang siap mengoyak leher Runa. Vampir itu semakin mendekat pada Runa . Sementara gadis itu tetap menodongkan pistol walaupun dengan tangan bergetar. Ia mundur selangkah. Setelahnya kakinya merinding hebat. Wajahnya memucat. Tanpa aba-aba, vampir itu bergerak cepat untuk menerjang Runa . Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat karena takut.

Buagh! Tubuh vampir itu terlempar jauh dan menubruk pohon di belakangnya. Ia meringis kesakitan dan menggeram marah.

"Apa yang ka-" Kata-katanya terhenti saat matanya menangkap sesosok vampir lain yang ia kenal. Tubuhnya terasa kaku. Ketakutan terpancar jelas dari kedua matanya.

"Yamada-sama, " gumamnya dengan suara tercekat. Runa membuka matanya perlahan. Ia tidak merasakan apapun. Ia merasa tubuhnya baik-baik saja. Bahkan ia mendengar suara seseorang menghantam sesuatu dengan keras. Ia mengerjapkan matanya dengan bingung saat melihat vampir itu terduduk jauh di hadapannya. Vampir itu nampak ketakutan di matanya.

"Apa yang ter-Ahh! Apa yang kau lakukan?" Runa yang hendak bertanya mengenai apa yang terjadi langsung mengubah kalimat tanyanya saat ada sepasang tangan kekar memeluk pinggangnya dengan erat. Sensasi dingin meresap ke dalam tubuhnya saat ia menyentuh tangan itu.

"Le-lepaskan! " pintanya dengan suara tercekat. Tanpa bisa ia cegah, jantungnya terus berpacu cepat. Perutnya terasa penuh oleh kupu-kupu. Tangannya yang menyentuh tangan itu mulai berkeringat dan merinding. Darah di pinggangnya terus berdesir aneh. Wajahnya pun terasa memanas. Rona kemerahan memenuhi wajahnya.

"He-hei! Le-lepas- " Brugh! Tubuh Runa merosot jatuh ke tanah, namun tangan kekar itu menariknya, dan menopang tubuh lemah Runa agar tidak terjatuh ke tanah.

"Yamada-sama, ma-maaf a-"

"Sebaiknya kau lebih berhati-hati, Rolfer. Kau hampir melanggar aturan, " potong vampir yang menahan tubuh Runa . Vampir berambut hitam kemerahan itu menatap tajam ke arah vampir yang ia panggil Rolfer. Ia tidak menyangka kalau sepupunya akan seceroboh ini.

"Sejak kapan kau tahu, Yama? " tanya Rolfer sambil bangkit dari duduknya.

"Hnn? " Vampir yang dipanggil Yama itu hanya bergumam tidak jelas. Ia menghirup aroma Amaryllis yang menguar dari tubuh Runa . Ia membenarkan letak tubuh Runa yang bersandar pada tubuhnya. Ia menyelipkan tangan kanannya di lipatan lutut Runa dan tangan kirinya di leher bawah Runa . Ia mengangkat tubuh mungil Runa dalam gendongannya .

"Sudah lama aku menduganya. Jadi sebenarnya siapa yang ingin kau hidupkan? " tanya Yama dengan nada datar. Matanya masih tertuju pada Runa . Wajah Runa yang merona merah.

Rolfer tidak terlalu kaget. Ia sudah mengiranya. Ia sadar kalau ia tidak akan bisa menyembunyikan sesuatu dari sepupunya. Sepertinya ia memang harus menceritakan percobaan gilanya kali ini pada sepupunya.

"Sebenarnya aku hanya main-main. Kalau pun berhasil, aku ingin menghidupkan paman Arthur." Rolfer berjalan mendekati Yama .

"Hmm ? Begitu. Kau tidak sendiri, bukan? " Yama masih menggendong Runa di atas kedua tangannya. Ia merasa tidak membawa beban apapun di tangannya. Tubuh gadis itu terlalu ringan.

"Ya, aku dan Rina yang melakukan ini semua. Jadi apa kau akan melaporkan kami kepada ayahmu? " Rolfer sudah berhadapan dengan Yama. Ia mengamati tingkah Yama yang terus memperhatikan gadis di gendongannya.

"Tidak. Aku rasa ini bukan masalah besar. Mungkin ayah akan memakluminya, " kata Yama . Ia menegakkan kepalanya dan langsung menatap tepat ke manik mata Rolfer.

"Tapi aku dan Rina sudah membunuh 15 orang sampai hari ini. Setahuku manusia menganggapnya sebagai kejahatan besar," kata Rolfer. Ia nampak ragu untuk mengatakan argumennya.

"Jujur saja aku tidak peduli pada manusia. Bagiku mereka tetap saja mangsa bagiku. " Yama mengatakan itu dengan nada dingin . Ia tak menyembunyikan ketidaksukaannya pada manusia. Baginya manusia hanyalah pemasok darah. Manusia terlalu lemah dan selalu merepotkan vampir.

"Eh, jadi apa yang harus ku lakukan? Apa ini perlu dihenti-"

"Tidak perlu. Lakukan sesukamu. Aku akan membantumu kalau ayah marah. Siapa tahu paman Arthur bisa benar-benar dihidupkan, " potong Yama sebelum Rolfer menyelesaikan kalimatnya.

"Baiklah." Rolfer mengalihkan pandangannya pada Runa dan Seihan. Dua sosok manusia yang sama-sama tak sadarkan diri. " Eh, tapi bagaimana dengan kedua gadis manusia ini?"

"Hapus ingatannya." Yama meletakkan tubuh Runa ke atas dedaunan kering. Ia segera meletakkan tangannya di kening Runa . Sinar merah berpendar sekilas sebelum menghilang. Ia menepuk-nepuk pipi kanan Runa dengan lembut.

"Jika aku bertemu denganmu untuk ketiga kalinya, aku tidak bisa menghapus ingatanmu lagi, " gumam Yama pelan. Rolfer melakukan hal yang sama pada Seihan. Menghapus ingatan gadis itu. Ia sedikit heran mendengar penuturan Yama .

"Bukannya kau tidak peduli pada manusia. Lalu kenapa kau bersikap selembut itu padanya? "

Yama tersenyum sekilas. "Entahlah. Dia berbeda. Hanya itu penjelasanku." Rolfer tertawa kecil. "Aku tidak tahu kalau Pangeran Kerajaan Vampir bisa seperti ini."



Northless Palace, 8 a.m.


"Ada hal penting apa yang ingin anda bicarakan, Yujiro-sama? " tanya Aiden de Toushimori, Minister dari Dewan Perwakilan Vampire.

"Kerajaan menjadi tenang setelah mereka pergi, " kata Jiro. Jawaban yang sangat melenceng dari pertanyaan Aiden.

"Ya, tapi sebagai gantinya kita kehilangan klan terpenting, " gumam Aiden , menanggapi apa kata Jiro.

"Kau tidak menganggapku? " goda Jiro dengan nada sambil lalu.

"Itu berbeda, Jiro. Jadi apa tujuanmu memanggilku ke sini?" Aiden berusaha mengembalikan ke topik utama.

"Hmmm." Jiro hanya bergumam tak jelas. Ia menatap langit di luar mansion yang terlihat mendung. Ia menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya sebelum mengatakan tujuan utamanya datang menemui Aiden.

"Takdir sudah kembali berputar. Biarkan tamuku melakukannya."



 
Oyharo city, Kingdom of Vampire, 10 a.m.


"Fukuzawa, aku ragu mengenai ini. Nanti kau yang menjawab semua pertanyaan Aiden-sama ya," bisik Miura sensei saat ia dan kedua muridnya dalam perjalanan menuju pusat kota Oyharo city.

"Iya, sensei," gumam Runa singkat. Ia menyandarkan kepalanya di jendela mobil yang mengantar mereka ke tempat pertemuan. Ia sangat lelah karena kejadian tadi malam saat ia bertugas di perbatasan Sorrowforest dengan Seihan.

Rave yang duduk di sebelah Runa meliriknya sekilas. "Kau yakin, Ruu ? Wajahmu agak pucat." Runa mengibaskan tangannya. "Tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur."

Rave tak lagi menanyai Runa. Ia memberikan Runa waktu untuk istirahat. Ia sibuk mengamati keadaan di luar mobil. Ada banyak vampire di pinggir jalan yang menatap mobil yang ia tumpangi dengan tatapan aneh. Tatapan penuh rasa haus. Sepertinya para vampir itu belum meminum tablet darahnya hingga mereka tampak kesakitan menahan rasa haus.

"Kita sudah sampai," kata Miura saat mobil berhenti tepat di depan deretan tangga menuju Main Aula.

"Hmmm." Gumaman tak jelas keluar dari mulut Rave dan Runa. Keduanya keluar dari mobil dan mengikuti Miura.

"Sensei, apa kita akan menaiki tangga ini?" tanya Runa histeris begitu melihat deretan tangga menjulang di depannya. Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus menaiki tangga sebanyak itu dengan stiletonya.

"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Miura. Ia juga sama kagetnya dengan Runa. Ia juga tidak ingin menaiki tangga sebanyak itu.

"Tidak. Kita lewat sini," kata Rave sambil menunjuk jalan kecil di samping deretan tangga. Di dekat jalan itu ada papan yang bertuliskan Main Aula dengan tanda panah menunjuk ke arah jalan kecil itu.

"Syukurlah," kata Runa dan Miura bersamaan. Ketiga manusia itu menyusuri jalan kecil yang akan membawa mereka menemui Raja Jiro.


Main Aula, Kingdom of Vampire


"Mereka sudah datang? " tanya Jiro pada penasehat kerajaannya, Adolph Jurotsuchi.

"Ya, Jiro-sama. Mereka dalam perjalanan kemari," jawab Adolph dengan penuh hormat. Kacamata berbingkai emasnya menyamarkan iris matanya yang berwarna coklat kemerahan. Rambut hitam panjangnya tergerai sampai ke pinggang. Namun tak bisa mengurangi ketampanannya.

"Hmm, lebih baik aku pergi. Aku tidak mau kalian menanyaiku tentang 'dia'. Aku tidak mau mendahului takdir. Pasti akan menarik kalau takdir kali ini sedikit menantang," cetus Felicita Merekibe tiba-tiba. Wajah tirusnya menunjukkan keanggunan yang lembut. Rambut ungu gelapnya tergerai sampai ke bahunya. Mata beriris coklat terangnya menyiratkan ketenangan dan kemisteriusan.

"Apa maksudmu, Merekibe-san? " tanya Adolph cepat sebelum Jiro sempat bertanya.Felicita tidak menjawab. Ia tersenyum misterius. Tanpa rasa bersalah karena tidak menjawab pertanyaan Adolph, ia segera melenggang ke arah pintu keluar. Ia berhenti sejenak di pertengahan jalan. Tanpa menoleh, ia bergumam,

"Dia datang tapi tidak sebagai dia. Belum waktunya dia kembali. " Jiro dan Adolph saling memandang. Keduanya sama-sama bingung dengan sikap aneh Felicita . Di pikiran mereka terlintas pertanyaan yang sama. 'Siapa dia itu?'

"Yang Mulia, tamu anda sudah datang, " kata seorang pengawal kerajaan dengan menghormat penuh ke hadapan Raja. Karena Raja hanya terdiam, pengawal itu mengulanginya kembali. "Yang Mulia, tamu anda sudah datang!"

"Ah, iya. Persilakan mereka masuk," kata Jiro setelah tersadar kembali dari lamunannya.

"Baik, Yang Mulia." Tak lama kemudian, pintu utama terbuka lebar. 3 sosok manusia memasuki ruangan. Semua vampir di dalam ruangan harus menahan nafas karena bau darah yang menggoda mereka. Ketiga manusia itu berjalan mendekati hadapan Jiro. Dua dari ketiga manusia itu mengenakan seragam hunter. Mereka adalah utusan dari Hunter Spy. Miura, Rave dan Runa.

"Salam sejahtera untuk Jiro-sama," kata Miura dengan tingkat kesopanan tinggi. Ia dan kedua muridnya membungkuk dengan hormat di hadapan Raja Jiro.

"Ya, berdirilah, " kata Jiro penuh wibawa. Matanya menatap tajam ke arah gadis bermata violet di hadapannya.

"Maaf telah menganggu anda, Yang Mulia," kata Miura.

"Tidak apa-apa. Aku tidak merasa terganggu. Ah, aku sudah membaca surat dari Hunter Spy." Jeda sesaat. Semua yang ada di dalam ruangan seakan menunggu penuturan Jiro selanjutnya. Terutama Miura, Rave dan Runa. Mereka sudah menyiapkan diri untuk sebuah penolakan. Atau mungkin untuk sebuah pengusiran.

"Aku minta maaf. Sebagai Raja, aku tidak tahu ada kejadian itu. Aku tidak menyangka pembunuhnya ada di Vampire 'ZERO' Academy. Aku akan membantu semampuku."

"Terima kasih, Yang Mulia," sahut Miura cepat.

"Tapi..." Semua kembali terdiam menunggu kelanjutan kalimat Jiro yang bisa saja berlawanan dengan kalimat sebelumnya.

"Kalian tahu bahwa kami belum terbiasa dengan darah manusia. Aku tidak bisa menempatkan kalian dalam bahaya selama kalian ada di akademi vampir. Tapi aku tetap mendukung misi kalian asalkan kalian yang menjalankan misi berubah menjadi vampir."

"Apa?" Miura tak bisa menunjukkan keterkejutannya.

"Tapi Yang Mulia, untuk menjadi vampir tidak bisa begitu saja dilakukan tanpa rencana. Butuh waktu lama untuk menyiapkan hal itu. Tidak bisakah Yang Mulia memberi syarat lain? Atau Yang Mulia berkenan memberi kami saran," kata Runa. Ia mengambil alih tugas Miura yang masih shock.

Jiro tersenyum simpul. Matanya menatap Runa dengan lembut. Ia mulai mengerti apa maksud Adolph dan Felicita. Tanpa diubah pun takdir sudah datang dengan sendirinya. Tanpa ingatan pun, hati mereka sudah dipertemukan oleh takdir.

"Aku tahu itu. Memang mustahil mengubah kalian menjadi vampir. Mengingat kedatangan kalian hari ini sudah pasti membuat pelakunya curiga. Tapi ada satu cara untuk menjadi vampir dalam waktu kurang dari 5 detik. Yaitu dengan obat mutasi buatan sendiri yang mengubah mampu manusia menjadi vampir selama kurang lebih 8 jam."

"Obat mutasi?"

#
 
 
 
Hunter 'ELF' Gakuen's Laboratory, 7 p.m.



"Jadi kerajaan vampir ingin hunter yang bertugas menjadi vampir dengan obat mutasi?" tanya Riiku Fukuzawa sambil menatap ketiga murid di depannya.

"Hehemm." Runa, Sean dan Rave mengangguk bersamaan. Mereka adalah 3 hunter yang dicalonkan untuk melaksanakan misi penyelidikan sekaligus pengejaran buronan pembunuh 15 manusia dalam 15 hari terakhir. Siapa yang akan menyusup ke akademi vampir akan ditentukan malam ini.

"Oh." Riiku kembali sibuk mengaduk-aduk tabung reaksi yang berisi cairan berwarna pink keunguan.

"Sensei!" seru ketiga muridnya dengan keras secara bersamaan. Mereka kesal karena tidak dihiraukan oleh Riiku.

"Hah? Apa?" tanya Riiku dengan wajah polosnya.

"Ajari kami membuat obat mutasi," kata Sean cepat. Diikuti anggukan dari Runa dan Rave.

"Aku tidak bisa kalau tidak ada resepnya." Runa langsung membungkam penolakan Riiku dengan selembar kertas berisi bahan dan cara membuatnya. Ia juga menyodorkan botol berisi darah vampir ke hadapan Riiku.

"Apa ini, Naa-chan?" tanya Riiku sambil mengangkat botol kecil itu lalu menggoyang-goyangnya.

"Darah vampire , Half-Blood," jawab Runa . singkat.

"Benarkah? Bahan ini sangat sulit dicari. Aku sudah mencarinya ke ujung penjuru Tosakyo city tapi tidak bisa menemukannya. Darimana kau mendapatkan ini?" celoteh Riiku begitu mengetahui apa isi botol itu.

Runa tersenyum sinis . Sangat mudah merayu ayahnya jika ayahnya sudah menunjukkan ketertarikannya pada sesuatu.

"Dari kerajaan vampir. Mereka memberikannya agar kami segera memulai membuat obat mutasi. Mereka memberikannya secara cuma-cuma. Dan kami hanya membutuhkan beberapa tetes, jadi sisanya untuk sensei."

"Benarkah? Ah, ehem. Baiklah. Sebaiknya kalian siapkan bahannya," kata Riiku sambil membaca sekilas cara membuat obat mutasi yang ada di kertas. Sekaligus menutupi ekspresi kesenangan yang berlebihan di wajahnya.

"Sudah!" seru Sean, Rave dan Runa bersamaan sambil menunjukkan sekeranjang penuh bahan-bahan aneh.

"Baiklah. Ayo kita mulai, " kata Riiku. Ia tetap menyibukkan diri dengan kertas di tangannya. Walaupun ia heran darimana mereka mendapatkan bahan secepat itu.

"Siapkan tabung elemeyer ukuran satu liter dan masukkan air lemon ke dalamnya. Masak sampai mendidih, " kata Riiku. Runa, Sean dan Rave melakukan semua perintah Riiku dengan hati-hati.

"Siapkan cawan petri ukuran diameter 15 cm. Haluskan kayu manis, bunga lily, mahkota mawar merah dan putih, bunga lavender, ganggang merah, hati kelelawar kering, dan biji apel."

Sean memasukkan semua bahan yang disebutkan ke dalam cawan dan langsung menumbuknya. Ia tak peduli pada kemungkinan ada bahan yang tidak perlu ikut masuk. Sementara Rave lebih hati-hati dengan meneliti bahannya satu persatu. Sama halnya dengan Runa . Ia bahkan membuang daun yang kering dan membersihkan bahan yang kotor.

"Masukkan bahan yang dihaluskan ke dalam cairan lemon yang sudah mendidih. Tambahkan darah vampir Half-Blood cukup satu tetes dan potongan jantung vampir kering secukupnya. Masak sampai memadat." Walaupun Riiku pada awalnya ingin mengajari namun pada akhirnya ia hanya mengawasi. Ia yakin murid-muridnya sudah pandai.

Mereka bergantian memasukkan darah vampir Half-Blood dan jantung vampir kering karena hanya ada satu. Runa menuang darah vampir lebih dari satu tetes karena tidak sengaja tersenggol lengan Sean. Ia tidak terlalu memperhatikannya. Ia mengambil jantung vampir kering dari tangan Sean yang mengulurkan itu sejak tadi. Ia memotong sedikit dari jantung itu. Crash! Tanpa sengaja, ia mengiris jari telunjuknya. Ia segera menghisapnya sebelum menetes ke ramuan. Tes! Ia tak menyadari ada setetes darahnya yang masuk ke dalam ramuan itu. Ramuan itu berubah warna menjadi merah darah beberapa detik sebelum kembali berwarna coklat.

"Aduk terus sampai padat dan berwarna pink kemerahan seperti di gambar ini," kata Riiku sambil menunjukkan gambar warna cairan ramuan di kertas resep.

"Sensei, kata Jiro-sama bentuknya pil. Kenapa ini masih cair begini? " tanya Runa penasaran. Menurutnya tidak mungkin ia berhasil karena ramuannya masih sangat cair.

"Aku tidak tahu. Di sini hanya tertulis begitu. Nantinya kalau sudah memadat, kita akan mencetaknya dan menguji cobanya. Baiklah, aku akan melihat-lihat hasil kerja kalian."

Rikiu mulai mengamati hasil kerja muridnya dari tabung milik Sean. Bukannya berwarna merah muda, tapi ramuan di tabungnya semakin menghitam. Ia menggeleng pelan. Sean gagal total. Ia mengintip tabung Rave. Ramuannya berwarna merah dan mulai memadat. Tapi bukan merah itu yang diminta melainkan pink atau merah muda. Ia mengalihkan matanya ke tabung Runa. Matanya bersinar senang melihat ramuan Runa yang mulai memadat dengan warna pink kemerahan yang sama dengan contoh.

"Ah, Naa-chan! Kau berhasil! Kau memang putriku yang paling hebat!" seru Riku kelewat senang.

"Hah?" Runa mengerjapkan matanya dengan bingung. "Benarkah?"

"Ya. Sama persis dengan yang ada di resep," jawab Riiku sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Runa menatap kertas resep dengan tabung ramuannya secara bergantian. Memang sama persis. Namun ia tak menyangkanya. Bagaimana mungkin ia berhasil? Apa artinya ia akan melakukan misi hebat ini? Seulas senyum kebahagiaan terlukis di bibirnya.

"Tidak salah lagi. Kau memang putriku," kata Riiku sambil memeluk putrinya erat-erat.

"Memang Runa itu putri sensei kan. Memangnya putri siapa lagi?" kata Sean. Rave hanya tersenyum pada Runa . Ia ikut senang karena Runa berhasil walaupun ia sedikit cemas akan keselamatan Runa selama misi.


§


"Runa!" Runa berhenti berjalan saat ada yang memanggil namanya. Ia membalikkan badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya.

"Senpai, ada apa?" tanya Runa santai .

"Hah? Tidak. Aku hanya ingin mengucapkan selamat." Rave mengulurkan tangannya. "Selamat atas misi pertamamu sebagai anggota Hunter Spy."

Runa menyambut jabat tangan Rave dengan mantab. Ia sedikit menundukkan wajahnya menandakan sopan santun pada kakak senior . "Terima kasih, senpai."

"Apa kau yakin akan pergi besok?" tanya Rave. Runa mengangguk. Ia mulai berjalan lagi. Menyusuri halaman depan Horikoshi Hunter "Ya. Lebih cepat lebih baik."

"Lalu kenapa kau masih ada di sini? Bukannya kau harus bersiap-siap." Rave mengikuti langkah Runa . Ia berjalan tepat di samping Runa.

"Ah...aku ada janji makan malam dengan Seihan. Kami sudah berjanji bertemu di pintu gerbang asrama," jawab Runa. Tangannya bergerak-gerak kedepan dan kebelakang . sesekali Ia meletakkan kedua tangannya di belakang tubuh. Jari-jarinya saling bertautan.

"Oh. Apa itu semacam pesta perpisahan?"

"Begitulah." Suasana menjadi hening. Keduanya bingung harus mengatakan apa. Keduanya tetap berjalan beriringan menuju pintu gerbang asrama.

"Hoy, midget!" seru Sean keras sambil merangkul bahu Runa dengan santai.

"Senpai! Sudah ku katakan berkali-kali 'jangan memanggilku midget!'. Apa kau tuli, huh?" seru Runa keras. Ia selalu meledak-ledak di hadapan Sean yang selalu memanggilnya midget.

"Ah, ancamanmu itu tidak ampuh, Runa-chan," kilah Sean.

"Hei! Aku akan mematahkan tanganmu," ancam Runa lagi.

"Sudahlah. Kalian ini selalu bertengkar. Apa kalian tidak lelah?" Rave yang melihat pertengkaran itu hanya menengahi seperti biasa.

"Rave!" Grep! Seorang gadis berambut blonde langsung memeluk lengan Rave dengan erat. Mata beriris hijaunya menatap Rave dengan penuh cinta. Dialah Mariya Matjishi, pengejar cinta Rave.

"Cih. Troublemaker sudah datang," gumam Sean cukup keras. Ia memandang kesal ke arah Mariya. Ia tahu betul betapa mengganggunya sosok Mariya dalam hidup Rave. Seperti benalu di pohon mangga. Sangat merugikan.

Mariya melihat ke arah Sean dan Runa. Tatapan penuh cintanya berubah menjadi tatapan jijik dan penuh ketidaksukaan. "Oh, kau ya. Sean, si gila warna pink. Warna norak."

"Apa kau bilang? Dasar troublemaker berjalan!" balas Sean. Runa terkekeh geli. "Aku rasa tidak ada salahnya menyukai warna pink."

Mariya menatap Runa dari atas sampai bawah. Ia tersenyum mengejek. Penampilan Mariya sangat standar di matanya. "Kau itu anaknya Fukuzawa sensei kan? Kau itu hanya berlindung di balik ketenaran ayahmu, padahal kau tidak ada apa-apanya. Sama saja sih. Ayahmu juga sebenarnya tidak bisa apa-apa. Dia itu hanya guru ramuan yang to-"

"Jaga mulutmu, Matjishi-san. Atau peluru ini akan menembus kepalamu," kata Runa dengan nada rendah dan dingin yang sangat menakutkan.

Wajah Mariya langsung memucat. Tubuhnya bergetar ketakutan. Ia tak menyangka Runa akan menodongkan pistol padanya. Dari ekor matanya, ia melihat sekilas nama pistol Runa . Darkyuri. Yang ia tahu pistol itu untuk membunuh vampir dan zombie. Jadi tak ada efek untuk manusia. Ia sedikit tenang.

Rave dan Sean pun kaget karena dalam waktu cepat pistol sudah tertodong di kepala Mariya . Mereka bahkan tak melihat gerakan Runa mengambil pistol. Dan yang pasti pistol Runa bukan sembarang pistol.

"Apa kau tidak belajar, Fukuzawa. Pistolmu tidak berefek padaku," kata Mariya dengan percaya diri. Runa tersenyum sinis. Tatapan matanya menajam. "Benarkah? Apa kau mau coba? Aku belum mencobanya pada manusia."

"Runa, sudahlah. Jangan terbawa emosi," kata Sean untuk menenangkan Runa. Ia tahu betapa menakutkannya Runa kalau sedang marah, terutama jika ada yang menghina ayahnya.

"Coba saja kalau berani," tantang Mariya.

"Baiklah. Hitung mundur dari 10."

"Runa, jangan," cegah Rave sambil memegang tangan Runa. Tapi percuma karena posisi tangan Runa tak berubah satu derajatpun.

"10, 9, 8, 7..." Runa mulai menghitung mundur. Sementara Rave dan Sean merasa khawatir. Darkyuri, pistol milik Runa bukanlah pistol hunter pada umumnya yang hanya mempunyai dua lubang peluru, satu untuk vampir dan satu untuk zombie yang otomatis berputar sesuai alat deteksi sasaran. Tapi pistol Runa ada tiga, satu lagi untuk manusia.

"3, 2, Dor!" Sean, Rave dan Mariya terpaku di tempat saat mendengar suara tembakan dari pistol Runa . Mariya yang takut nyawanya hilang. Sean dan Rave yang tidak percaya kalau Runa telah melakukannya. Semua hening.


##############






Author : Haru Yamada .

Genre : Vampire .

CAST : Runacathra Fukuzawa As Yamashita Haruna .
           Seihan Kojichiru As Melinda Anindya .
           Yabu Kouta as Miura Odagaki ,
           Riiku Fukuzawa as Sakurai Sho .
           Yamada Ryosuke as Himself .
           Merlion Jurotsuchi as Chinen Yuri .
           Rolfer Yamada as Keito Okamoto .
           Mariya Matjishi as Nishiuchi Mariya

"Aku pulang!" seru Runa keras-keras dari pintu depan sebuah rumah minimalis di pinggiran kota Tosakyo tepatnya di Guinave Village. Tangan mungilnya memencet bel berkali-kali sampai terdengar bunyi 'ting tong' berurutan.

"Hei! Jangan berteriak seperti itu, Naa-chan!" balas seorang pria berumur akhir 30 tahunan yang memakai celemek berwarna biru laut. Di tangannya ada sodet masak yang masih bersih. Ia berjalan santai menuju pintu depan. Mata beriris abu-abunya tersembunyi indah di balik kacamata non frame yang ia pakai. Rambut hitamnya yang terpotong pendek nampak acak-acakan. Ia berusaha mengabaikan bunyi bel yang mulai membuat telinganya sakit. Ia, Riiku Fukuzawa tak akan memaafkan ulah Runa kali ini dengan mudah.

Ceklek! Pletak!

"Ah! Aduh! Ayah! Sakit !" omel Runa kesal. Ia tak menyangka ayahnya akan memukul kepalanya dengan sodet sayur.

"Itu hukumanmu karena memencet bel seenakmu sendiri," balas Riiku. Ia juga nampak kesal.

"Ah, ayah. Aku kan baru pulang dari Horikoshi Hunter Society. Apa kau tidak merindukanku?" kata Runa dengan nada merajuk.

"Aish! Bagaimana mungkin ayah merindukanmu kalau setiap hari kita bertemu di Horikoshi Hunter Gakuen dan setiap akhir minggu kau juga pulang," jelas Riku panjang lebar. Sekedar memberitahu putrinya kalau ia tidak merindukan putrinya sedikitpun.
Wajah Runa berubah cemberut. Bibirnya maju beberapa milimeter. " Ayah jahat! "

" Hei! " Riku memekik kaget saat putrinya melewatinya sambil menabrakkan diri ke tubuhnya. Ia menggeleng pelan sebelum menutup pintu rumah. Ia heran kenapa dia bisa mempunyai anak seunik Runa. Meledak-ledak seperti petasan.

" Ayah! Kare-mu gosong! " seru Runa dari arah tangga di dekat dapur.

" Hah? " Riiku terhenyak kaget. Ia buru-buru berlari ke dapur dan meninggalkan kegiatan melamunnya beberapa saat lalu. Matanya membelalak kaget menatap kepulan asap dari panci karenya.

" For God Sake. Kare-ku! " serunya frustasi. Ia menatap pancinya dengan sedih. Kare spesialnya gosong padahal baru ia tinggal sebentar. Ini pasti gara-gara apinya terlalu besar. Argh! Ia menjambak rambutnya sendiri. Harus makan apa dia malam ini ? Padahal Runa ada tes Hunter Spy tengah malam nanti. Bagaimana kalau putrinya kelaparan nanti ? Lalu gagal dalam tes. Tidak! Ia merasa jadi ayah yang jahat.

" Sudahlah, ayah . Aku sudah belikan bahan makanan. Masak saja lagi! " seru Runa dari lantai atas. Ia sudah hafal kebiasaan ayahnya yang hanya membeli bahan makanan untuk sekali masak. Dan ayahnya itu hanya masak setiap akhir pekan saat ia pulang.

" Hah? Baiklah. Aku akan masak kare lagi, " kata Riku dengan semangat baru yang entah ia dapat darimana. Ia berjalan mendekati meja dapur dimana ada sekantong bahan makanan di sana. Ia terdiam saat melihat bahan makanan yang ada di dalam kantong. Hanya ada daging, paprika, bawang bombay, cabai, kecap, saus dan wasabi. Ia hanya mampu menatapnya dengan bingung. Tidak ada bahan makanan untuk kare.

" Aku mau barbeque bukan kare, " kata Runa tiba-tiba.

Riku menatapnya kecewa. " Tapi ayah mau kare, Naa-chan. "

" Tidak bisa, aku mau barbeque! " tandas Runa kesal. Ia bosan makan kare setiap pulang ke rumah.  

“ Kalau ayah tidak mau, ya sudah. Aku bisa masak sendiri."

" Eh? Ayah mau kok. Naa-chan duduk saja , biar ayah yang masak, " kata Riku dengan senyum yang kelewat lebar.

" Baiklah. " Runa duduk di kursi di ruang makan dengan tenang. Ia mengamati ayahnya yang sedang memasak. Terkadang ia sempat berpikir 'bagaimana mungkin orang sekonyol ayahnya bisa menjadi guru obat yang cukup disegani di Horikoshi Hunter Gakuen. Sulit dipercaya tapi memang itu kenyataannya.

" Eh, ayah. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu," kata Runa saat tiba-tiba ia teringat pada pembicaraannya tadi siang dengan Udagaki sensei.

" Ya? Bicara apa? Katakan saja! Aku masih bisa mendengarmu dengan jelas, " balas Riku.
Runa menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara. " Ini tentang misi pengejaran buronan di Vampire 'ZERO' Academy. Aku mau ikut misi Hunter Spy di sana kalau aku lulus tes. "

Klontang!

Riiku menjatuhkan pisau yang tadi ia gunakan untuk memotong daging. Pisau itu jatuh membentur lantai dengan cukup keras. Beruntungnya pisau itu tidak mengenai kakinya yang hanya memakai sandal rumah berbentuk kepala sapi di ujungnya. Riku membalikkan tubuhnya perlahan ke arah dimana Runa berada . Matanya menatap Runa dengan horor.

"A-apa kau bilang tadi, Naa-chan?" tanyanya dengan suara tercekat. Ia masih memberikan tatapan horor pada Runa . Ia kaget dan tak menyangka kalau Runa akan mengatakan itu. Darimana putrinya tahu kalau ada misi pengejaran buronan ke Akademi Vampir? Ah, ia ingat. Ia yakin kalau Miura yang sudah mengatakannya pada Runa.
Runa menatap ayahnya dengan bingung. Reaksi yang diberikan ayahnya cukup membuatnya kaget. Walaupun ia sudah menduga hal itu sebelumnya. Ia berdecak kesal sebelum angkat bicara.

" Ckk. Ayah tidak dengar ? Aku bilang kalau aku akan ikut misi pengejaran buronan ke Vampire 'ZERO' Academy kalau aku lulus tes Hunter Spy tengah malam nanti."

" Ah, Naa-chan. Jangan lakukan itu. Kau tahu di sana sangat berbahaya. Lagipula kejahatan ini bukan kejahatan besar, " kata Riku dengan wajah memelas.

Runa kembali berdecak kesal. "Ayah! Bukan kejahatan besar bagaimana! Sudah ada 13 korban dan itu akan terus berlanjut."

" Tapi- "

" Aku tidak terima kata 'tapi' dari ayah. Lagipula aku ikut misi ini kalau aku lulus tes Hunter Spy tengah malam nanti. Kalau aku gagal, aku tidak akan ikut," potong Runa cepat sebelum ayahnya sempat meneruskan kata 'tapi'-nya.

"Naa-chan, aku melarang karena aku tahu kalau kau akan berhasil dalam tes Hunter Spy. Kau bisa melakukan misi apapun, asal jangan misi penyusupan seperti ini. Ayah tidak setuju. Bagaimana kalau vampire di akademi vampire mencium bau darahmu saat haus. Kau bisa diserang oleh mereka. Kita tahu pasti tentang larangan memasuki Vampir 'ZERO' Academy yang dikeluarkan kerajaan Vampire . Itu untuk keselamatan kita, " jelas Riku panjang lebar.
Runa mendengus kesal.

" Kasus kejahatan ini juga menyangkut kepentingan mereka. Aku yakin kalau mereka akan mengizinkan penyusupan ini."

" Apa maksudmu? Kepentingan mereka? " ulang Riku tak mengerti.

" Ayah ingat tentang peleburan untuk membuka segel Triangle Darkness? " tanya Runa. Ia tersenyum licik saat ayahnya nampak bersemangat.

" Tentu saja. Itu jalan pintas yang cukup menantang. Ah, tapi apa hubungannya dengan ini? " Riku memandang putrinya dengan curiga.

" Kejahatan ini adalah proses peleburan itu. "

" Kenapa kau bisa beranggapan seperti itu? " tanya Riku ragu.

" Ada beberapa poin penting yang sama. Pertama, semua korbannya bergolongan darah O. Kedua, ada tattoo helai sayap phoenix di bawah tulang selangka korban. Ketiga, dalam dua minggu ini semua korban ada 13 dan dari Orbitary village. Bukankah itu syarat utama peleburan, yaitu berurutan tiap malam dengan 1 korban dan 14 korban dalam 1 tempat. Jadi kemungkinan ini ilegal. Kalau legal tentunya pihak kerajaan akan memberitahu kita kan? " jelas Runa .

Riku menatap Runa dalam-dalam. Ia tak menyangka putrinya mampu menganalisa seakurat ini. " Hebat. Kau memang putriku yang paling hebat. "

Runa kaget saat ayahnya sudah ada di depannya dan memeluknya erat-erat. Ia hanya tersenyum kecil sambil menepuk-nepuk punggung ayahnya. Tiba-tiba keningnya mengernyit bingung saat hidungnya mencium aroma sesuatu. Bau gosong. Matanya membulat begitu melihat daging yang dipanggang telah berasap.

" Ayah, dagingmu gosong, " bisiknya pelan. Senyum geli terukir di bibirnya.

" Apa! "

Riku langsung histeris melihat dagingnya telah hangus dan tidak bisa dimakan pastinya. " Mau makan apa kita malam ini? “



" Naa-chan, kau tidak apa-apa hanya makan malam dengan mie instan? Apa perlu ayah buatkan bekal roti? " tanya Riku sebelum mengantar Runa ke Orbitary village. Karena dagingnya hangus, ia dan Runa hanya makan mie instan. Ia khawatir kalau Runa akan kelaparan saat tes nanti.

" Tidak perlu, ayah. Aku sudah kenyang dengan mie instan tadi, " tolak Runa . Ia sudah mengenakan seragam Horikoshi Hunter Gakuen lagi setelah ia sempat berganti pakaian saat di rumah. Ia merapikan kemeja berlengan panjang berwarna putih yang membalut tubuhnya. Dasi berwarna biru muda sudah terikat rapi. Rok lipit selutut yang sewarna dengan dasinya juga sudah rapi. Di tangannya sudah ada mantel panjang berwarna putih dan pistol rakitan yang ia buat sendiri sebulan yang lalu. Ia menamainya dengan Darkyuri.

" Baiklah. Kita berangkat sekarang, " kata Riku. Ia menyalakan mobil Volvo putihnya dan melajukannya dengan cepat menuju ke Orbitary village.

Tak sampai setengah jam mereka sudah sampai di pinggiran Orbitary village, tepat di tepi Sorrowforest. Di sana sudah terlihat ramai. Tidak hanya Runa yang mendapat jadwal tes tengah malam ini.

" Aku tes dulu . Sebaiknya ayah pulang, " kata Runa sebelum keluar dari mobil.

" Ya . Hati-hati, " balas Riku. Ia memperhatikan pergerakan Runa sampai gadis itu berhenti di depan seorang pria .

" Ckk, Miura. Awas kalau sampai putriku terluka, " gumam Riku pelan. Ia segera memutar arah mobilnya menuju rumahnya. Yui berjalan cepat menuju tempat dimana Miura Udagaki berada. Ia menyelipkan pistolnya ke dalam saku mantelnya. Lalu mengenakan mantelnya dengan cepat.

" Sensei ! " seru Runa pada pria yang ia kenali sebagai Miura .

Miura menoleh ke arah kedatangan Runa . Ia berdecak singkat.  "Ckk. Kau telat 13 detik, Fukuzawa. Segera masuk hutan dan kembali ke tempat ini dengan membawa bendera yang ada di tengah hutan. Hanya ada 3 bendera malam ini." Runa mengangguk mengerti . Ia sudah akan berjalan ke dalam hutan tapi ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Miura .

" Sensei, sebaiknya hunter yang ada di sini berjaga karena malam ini pasti ada serangan di Orbitary village, walaupun sudah lewat tengah malam."

" Hah? Apa mak-Hei ! Ck ! Bocah itu, " keluh Miura pelan karena Runa sudah menghilang di balik pekatnya hutan. Runa terus berlari menerobos hutan. Tujuannya hanya satu yaitu tengah hutan. Ia mengingat rute jalan pintas yang pernah ia baca. Saat sampai di persimpangan, ia memilih jalan ke kanan. Walaupun terjal tapi itu adalah jalan pintas. Dengan lincah, tubuh mungil itu melewati jalanan berbatu yang berbatasan langsung dengan jurang. Ia melompat di bebatuan terakhir dan langsung sampai di tengah hutan. Ia melihat ada banyak bendera yang sejenis. Tapi ia hanya melihat ada 3 yang memiliki tanda Horikoshi Hunter Gakuen kecil di ujung bendera. Dengan cepat ia meraih salah satunya dan kembali menyusuri jalan yang berbeda dengan jalan saat datang.

"13 menit 3 detik. Runacathra Fukuzawa, " seru hunter yang bertugas menghitung waktu di garis finish.

" Midget, kau membuat rekor baru! " seru seorang laki-laki berambut coklat terang. Tangan kekarnya menepuk-nepuk kepala Runa dengan semangat . Mata beriris birunya nampak bersinar di keremangan malam.

" Sean senpai ! Jangan memanggilku midget ! Aku tidak kerdil ! " seru Runa pada seniornya , Sean Kotatsuki yang dua tahun di atasnya .

" Bagiku kau tetap midget ! Iya kan, Rave ? " Sean menoleh sekilas pada laki-laki di belakangnya yang ia panggil Rave. Rave Kunihonshou hanya tersenyum kecil. Rambut hitamnya tersembunyi rapi di balik tudung mantelnya. Mata beriris coklat terangnya menatap Runa dengan lembut. " Selamat, ya. Kau memang hebat. " Runa mengangguk cepat dan segera memukul bahu Sean sebagai balasan atas jitakan di kepalanya tadi.

" Hei ! Runa , aku dengar kau mau ikut misi pengejaran buronan ke Vampir 'ZERO' Academy. Benar tidak ? " tanya Sean saat Runa sudah berhenti memukul bahunya.

" Itu ? ya, sepertinya . Tapi kalau bisa aku ingin menangkapnya malam ini, " jawab Runa sambil melepas mantelnya . Dengan tak peduli, ia duduk meluruskan kaki di atas dedaunan kering. Tangan mungilnya dengan lincah melepas sepatu ketsnya. Dan menggantinya dengan stileto berhigh heels 7 cm.

" Malam ini ? Memangnya kau yakin dia akan datang malam ini ? " tanya Sean lagi.

" Ya. " Runa kembali berdiri dan memandang ke langit.  "Pasti datang. Dia tidak bisa melewatkan sehari pun. Ah, bagaimana menurut senpai tentang tujuan kejahatan ini ? Aku yakin Udagaki sensei sudah menceritakan itu pada kalian." Sean mengangkat bahu.

"Entahlah. Analisamu masuk akal. Berhubung aku tidak tahu menahu soal buku itu dan isinya, aku setuju saja denganmu. Kau kan memang buku berjalan." Runa menoleh dan menatap Sean dengan tajam. "Apa maksudmu dengan buku berjalan?"

" Nothing. " Sean mengacungkan tanda peace dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

" Aku setuju denganmu, Runa . Memang ada indikasi ke arah itu. Tapi belum bisa dipastikan mengenai hal itu, " kata Rave. Ia menatap Runa tetap dengan tatapan lembut.

"Ngomong-ngomong darimana kau tahu tentang buku itu?" Runa terkekeh pelan. Dengan gaya cool ia merapikan rambutnya yang sebenernya tidak terlalu kusut karena terpaan angin malam itu .

" Dari ayah . Senpai kan tahu kalau ayahku memang menyukai buku-buku seperti itu. "

" Ah, aku jarang bertemu Fukuzawa sensei. Apa dia sedang melakukan sebuah proyek ? " tanya Sean tiba-tiba. Ia terlihat antusias menanyakan Fukuzawa sensei. Sudah menjadi rahasia umum kalau ia sangat mengidolakan Fukuzawa sensei dan selalu menjadi orang pertama yang memuji obat penemuan Fukuzawa sensei.

" Entahlah. Sepertinya memang begitu. Ayah bilang dia sedang sibuk meneliti komposisi darah vampir dan bagaimana cara vampir mengidentifikasi bau darah manusia," jawab Runa sambil menunjukkan pose berpikirnya. Kepalan tangan menyangga dagu.

" Dimana Udagaki sensei? " tanya seorang anggota Hunter Spy pada Rave yang berdiri tak jauh darinya.

" Ah, ada di posko penilaian. Memangnya ada apa ? " kata Rave pada orang itu.

" Eh? " Orang itu nampak ragu untuk menjawab.

" Sedang apa kau di sini ? Bukannya aku menyuruhmu berjaga di balai desa Orbitary," cetus Miura yang sudah ada di belakang Runa entah sejak kapan.

" Sensei, ada pe-pembunuhan di balai desa. Pelakunya vampir. "

" Apa? " seru Miura dan Sean secara bersamaan. Sementara Runa dan Rave tetap tenang . Sepertinya keduanya sudah menduga hal itu akan terjadi.

" Sebaiknya kita segera ke sana, " kata Rave dengan nada datar. Runa sudah berlari terlebih dahulu sebelum yang lainnya bergerak. Ia penasaran dengan kondisi korban. Ia ingin melihat korban dengan mata kepalanya sendiri. Langkah kakinya berhenti tepat di dekat kerumunan orang. Ia menerobos masuk ke dalam kerumunan dan langsung mendekati korban, tepatnya
mayat korban berada. Ia duduk berjongkok di dekat mayat seorang wanita seusianya. Wajah mayat itu pucat pasi dengan mata tertutup. Bajunya sedikit terkoyak. Tangan Runa sudah terulur untuk menyingkap baju korban di bagian leher. Namun ada tangan kekar yang menampik tangannya dengan keras.

" Apa yang kau lakukan? Kau bukan anggota Hunter Spy ! " seru hunter yang menampik tangan Runa.

"Ckk." Runa berdecak kesal sambil mengusap tangannya yang memerah karena tampikan tangan hunter itu. Ia berdiri tegak dan menatap hunter itu dengan kesal. " Aku sudah menjadi anggota Hunter Spy sejak beberapa menit yang lalu. "

" Omong kosong. Pergilah, bocah ! " Hunter itu mendorong Runa sampai nyaris menubruk tanah kalau tidak ditahan Rave yang ada di belakang Runa beberapa detik yang lalu.

" Kau tidak apa-apa? " tanya Rave tepat di belakang Runa .

"Hmmm . Aku tidak apa-apa. " jawab Runa masih dalam keadaan marah yang tertahan .

" Biarkan dia memeriksanya. Dia berada di bawah perintahku, " tandas Miura. Ia mengalihkan tatapannya pada Runa .  "Lakukan apapun yang mau kau lakukan ! "

" Baiklah . " Runa menjawab singkat dan segera duduk berjongkok di dekat mayat. Tangannya menyingkap baju yang menutupi leher bagian kanan korban. Ada dua lubang bekas gigitan yang jelas terlihat di leher korban. Tangannya menyingkap baju korban lebih ke bawah tepatnya di tulang selangka bagian kanan. Namun tidak ada tattoonya. Ia beralih ke tulang selangka bagian kiri. Ada tattoo helai sayap phoenix di sana.

" Udagaki sensei , apa tattoonya ada di bagian kiri semua? " tanya Runa tanpa melihat ke arah Miura sedikitpun.

" Entahlah . Bagaimana menurut catatanmu , Sean? " Miura menatap Sean yang nampak sibuk membolak-balik notenya.

" Tidak. Korban pertama di kanan , korban kedua di kiri . Tattoonya berganti tempat tergantung urutan korban. Untuk yang ganjil ada di kanan, dan kiri untuk yang genap," jelas Sean.

" Oh, begitu. " Runa bangkit dan berjalan menjauh.  "Aku pergi sensei, mungkin pembunuhnya belum jauh. Dia akan melambat kalau terlalu kenyang." Sebelum sempat ditanggapi , Runa sudah menghilang.

" Apa boleh buat , midget benar, " kata Sean seraya berlari mengejar Runa . Rave menyusul di belakangnya.

" Bocah-bocah itu terlalu bersemangat, " kata Miura sebelum memerintahkan anak buahnya menyisir setiap tempat.



Runa berlari cepat menyusuri jalan setapak yang ada di samping balai desa. Jalan itu membawanya ke dalam hutan, Sorrowforest. Ia tetap berlari jauh ke dalam hutan walau terkadang ia berhenti karena stiletonya menancap di tanah basah. Ia tidak tahu kenapa ia menyusuri jalan ini. Ia hanya menuruti apa kata hatinya saja.

" Hah? Apa yang ku lakukan? " gumamnya pelan, sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ia memperhatikan sekitarnya dengan cermat. Tidak ada apapun kecuali kegelapan yang membayang di balik pepohonan. Ia menyeka keringat yang menetes dari keningnya. Beberapa bulir keringat mengalir sampai ke matanya. Ia memejamkan matanya yang terasa perih.

Srett! Tubuhnya menegang saat merasakan ada yang lewat di dekatnya. Dengan cepat ia berbalik ke arah dimana ia merasakan sesuatu tadi berasal. Dari matanya yang belum bisa melihat dengan jelas, ia menangkap sesuatu yang menyerupai manusia bergerak cepat ke arahnya. Brugh! Belum sempat ia menghindar, sosok itu sudah menabraknya dengan keras.

Bugh! Krasakk! Tubuh Runa jatuh menimpa dedaunan kering dengan sosok itu tepat di atasnya. Lengan tangan bagian atas Runa tergores bebatuan. Membuat gadis itu meringis kesakitan.

Deg! Deg! Deg! Jantung Runa berdetak kencang saat matanya bertemu pandang dengan sosok itu. Amethyst violet kemerahan bertemu hazel semerah darah. Keduanya terdiam tetap pada posisinya. Saling menyelami mata masing-masing. Jantung Runa terus berdetak tak terkontrol. Darahnya mengalir menuju ke wajahnya, dengan cepat membuat wajah cantik itu merona merah.

Tes! Suara tetes darah dari luka gores di lengan Runa , memecah keheningan. Keduanya mengerjapkan matanya bersamaan. Cahaya rembulan yang bersinar menerobos melewati pepohonan menerpa wajah Runa . Membuat sosok itu terpaku pada Runa . Sementara Runa tak bisa melihat apapun dari siluet sosok itu kecuali ketajaman mata dan kenyataan kalau sosok itu adalah vampire laki-laki. Tidak ada makhluk lain yang mempunyai iris mata semerah mata vampire. Dan tidak ada tubuh seberat itu kecuali tubuh laki-laki. Ia juga merasakan samar-samar otot sixpack di perut vampir itu. Memikirkan hal itu membuat wajahnya semakin memerah. Bagaimana mungkin ia memikirkan hal itu di saat nyawanya mungkin terancam.

" Kau vampire? " tanya Runa dengan suara tercekat. Sosok itu diam saja. Ia tetap menatap Runa dengan tajam. Mengamati wajah cantik Runa yang memerah. Namun tiba-tiba tangannya secara naluriah terangkat menuju luka gores di lengan Runa. Dengan sihir ringan, ia mengobati luka itu. Walaupun ia sudah tak mampu menahan rasa hausnya, ia tak berniat menggigit Runa . Ia merasa tak tega . Selain itu minum bukanlah tujuannya saat ini.

" Aku bertanya pada-mu. Apa kau vampir yang membunuh mereka?" ulang Runa dengan pertanyaan yang hampir sama. Ia hanya menambahkan sedikit pertanyaan yang menganggu pikirannya. Sosok itu tersenyum manis. Membuat rona merah makin terlihat di wajah Runa . Sosok itu tak menjawab. Tangannya bergerak cepat melonggarkan dasi yang dikenakan Runa . Tangan dinginnya menelusuri leher Runa bagian kiri. Tatapannya terpaku pada mata Runa. Membuat gadis itu diam tak berkutik. Membuat gadis itu tahu betapa hebatnya kemampuan vampir dalam mempesona manusia.

" Ya, aku memang vampir, " gumam sosok itu pelan. Ia memang tak berniat menggigit Runa, namun saat melihat wajah Runa yang merona merah, ia menjadi lost control. Ia menjadi sangat haus. Ia semakin tak tahan untuk segera minum.

"Tapi sayang, aku bukan pembunuh yang kau cari. Kau tahu, sepertinya kita mencari vampir yang sama. " Runa tercekat saat taring tajam sosok itu terlihat ketika sosok itu menyeringai lebar. Ia tak bisa mengelak lagi saat sosok itu mendekatkan kepalanya ke arah lehernya. Ia menahan nafas saat hembusan nafas dingin sosok itu menerpa lehernya. Nafas itu terasa menggelitik kulit lehernya . Ia mendongakkan kepalanya saat sesuatu yang basah dan lembut menjilat lehernya. Jantungnya mulai berdetak semakin kencang. Tubuhnya mulai terasa merinding. Ada yang bergejolak dalam hatinya. Jleb! Ia memejamkan mata saat taring itu menembus kulitnya. Dan ia memalingkan wajahnya ke arah kanan saat kedua taring tajam itu terasa semakin dalam menancap di lehernya. Ia bisa merasakan volume darahnya tersedot keluar. Kepalanya pening dan pandangan matanya mulai kabur. Pikirannya mulai kalut jika tersadar nanti ia sudah di alam lain. Ia takut, sangat takut untuk pertama kalinya.

" Apa kau- " Sebelum mendengar penuturan sosok itu lebih jauh, Runa sudah jatuh pingsan. Hal terakhir yang ia lihat adalah tangan dingin yang mengusap pipinya.

" -baik-baik saja? " bisik sosok itu saat ia sudah selesai meminum darah Runa . Ia mengangkat kepalanya dan menemukan Runa dalam keadaan pingsan. Ia tersenyum kecil sebelum menjilat bibirnya. Membersihkan sisa darah yang tertinggal di bibirnya. Ia menatap wajah terlelap itu lekat-lekat. Ia tidak tahu kenapa wajah itu begitu menarik di matanya. Ia mengalihkan pandangannya ke badge nama di seragam Runa.

" Padahal aku hampir berhasil menahan rasa hausku selama 1 bulan penuh. Tapi kau membuatku sangat haus, Nona Runacathra Fukuzawa." Sosok itu tersenyum manis. Ia menyentuh luka bekas gigitannya. Dalam sekejab luka itu menghilang. Begitu pula bekas darah yang sebelumnya mengotori seragam gadis itu. Ia beralih menyentuh kening gadis itu. Sinar merah berpendar beberapa detik sebelum kembali hilang.

" Kau harus melupakanku. Anggap malam ini kita tidak pernah bertemu. " Ia tersenyum kecil sebelum merapikan dasi dan kerah baju Runa . Ia tidak mau dihukum karena kesalahan kecilnya yang melanggar aturan Seven Rules. Ia tidak bisa memastikan apa gadis itu ikhlas memberikan darahnya atau tidak. Walaupun gadis itu tidak mengelak saat dia menggigitnya. Namun akan jauh lebih mudah jika ia menghapus ingatan gadis itu. Jadi ia tidak perlu membuat beban di pikiran gadis itu. Ia beranjak dari posisinya yang menindih Runa . Ia berjongkok di dekat tubuh Runa .

"Terima kasih, Nona. darahmu manis sekali, " gumam sosok itu pelan. Ia mengusap kening Runa . Menyibak poni yang menutupinya. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Aroma Amaryllis memenuhi indra penciumannya. " Amaryllis . Entah kenapa wangimu sangat menggoda bagiku." Sosok itu meraih pergelangan tangan kanan Runa. Membuat pola khusus di sana. Pola phoenix kecil yang hanya bisa dilihat olehnya.

" Aku tidak berniat menandaimu tapi aku ingin melakukannya. Maaf jika kau merasa keberatan. Suatu saat aku akan menghapusnya jika kau memintanya padaku. Sampai jumpa, Runa ."

Sosok itu meletakkan tangan Runa kembali ke atas dedaunan kering. Ia beranjak dari posisi jongkoknya. Ia menatap wajah Runa lama-lama sebelum beranjak pergi. Meninggalkan gadis yang tak sadarkan diri itu sendirian. Tak lama setelah vampir itu pergi, Runa terbangun dari pingsannya. Ia menatap sekelilingnya dengan bingung dan heran. Kepalanya masih pusing. Matanya masih agak buram. Hanya kegelapan yang dapat ia lihat.

" Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini ? " gumamnya pelan.

"Runa, kau tidak apa-apa?" tanya Rave sambil duduk berjongkok di dekat Runa.

" Hah? " Runa menatapnya dengan bingung. Ia berdiri dengan bantuan Rave. Kepalanya masih sedikit pening. "Ya, aku rasa begitu. Sepertinya aku terjatuh tadi."

" Yakin? Sebaiknya kau pulang. Sudah hampir pagi. Aku akan mengantarmu pulang," kata Rave sambil tetap memegangi tubuh Runa . Ia masih khawatir dengan keadaan Runa yang sepertinya masih linglung.

"Em , tidak perlu repot-repot, senpai, " elak Runa masih dengan pandangan yang pening .

" Tidak apa-apa. Aku tidak merasa direpotkan. " Rave tersenyum lembut. Runa tak bisa menolaknya karena Rave sudah memapahnya berjalan. Tangannya sudah melingkar di bahu Rave. Dan tangan Rave pun sudah melingkari pinggangnya.

" Kenapa kamu bisa ada di sini? " tanya Runa sambil menatap wajah Rave.

" Kebetulan. Tadi aku mengejar vampir. Dia berlari ke tempatmu berada tadi. Apa kau melihatnya? " Runa terdiam lama sebelum akhirnya menggeleng pelan. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi tadi, tapi ia tidak bisa mengingatnya sedikitpun.

" Aneh. Sepertinya dia vampir yang hebat, " gumam Rave. Runa tak menanggapinya lagi. Ia merasa benar-benar lelah. Apa mungkin gara-gara ia hanya makan mie instan malam ini?




Back-yard of Northless Palace, 3 a.m.


Seorang laki-laki berjalan pelan menyusuri jalan setapak di taman belakang istana. Mantel hitam yang membalut tubuhnya menjuntai sampai ke tanah yang tertutupi dedaunan maple kering. Rambut hitam kemerahannya yang acak-acakan dimainkan angin musim gugur yang nakal. Helai-helai rambutnya terkadang menutupi matanya. Rambut bagian belakang memanjang melewati batas kerah kemeja. Namun ia nampaknya tak berniat untuk memotongnya.

Krasak!

Mata beriris coklat keemasannya melirik ke arah belakangnya sekilas. Ia kembali sibuk menikmati pemandangan musim gugur di pagi buta. Wajah tampan dengan garis wajah tegas dan kulit pucatnya menampakkan ekspresi datar tanpa emosi. Hanya sesekali bibir tipisnya melengkungkan senyum kecil karena mengingat apa yang baru terjadi tadi.

"Yamada-sama, anda darimana saja? " tanya Marlion Jurotsuchi . Pemuda berambut hitam pekat itu berjalan pelan tepat di belakang laki-laki yang ia panggil 'Yamada-sama'. Mata beriris coklat kemerahannya menyiratkan kekhawatiran.

"Sudahlah, Marlion. Aku tidak suka dengan panggilan itu. Aku juga tidak suka gaya formalmu itu. Bisa kah kau bersikap normal seperti biasa? " tandas Yamada dengan nada datarnya.

" Ya, asal kau tidak kabur seenakmu sendiri, " sahut Marlion. Ia menyunggingkan senyum liciknya.

" Aku hanya menyelidiki beberapa hal sekaligus jalan-jalan mencari udara segar, " elak Yamada singkat. Ia menyibukkan diri dengan menatap rembulan di langit. Melihat sinar terangnya, ia jadi teringat pada gadis itu.

" Eh? Baumu aneh, Yama, " cetus Marlion tiba-tiba. Ia mencium bau yang tidak biasanya menguar dari tubuh Yama .

"Hnnn? Apa maksudmu? " tanya Yama tanpa mengalihkan tatapannya dari rembulan. Ia mulai berfantasi aneh. Ia merasa telah melihat wajah gadis itu terlukis di bulatnya rembulan.

" Tidak biasanya kau memakai parfum ini. Biasanya jeruk lemon atau melon kan? " Marlion menatap Yama tajam. Ia meminta penjelasan pasti dari teman baiknya itu. Apa temannya sudah berubah selera ? Atau ada hal lain yang menyebabkan bau Yama berubah.

" Tidak, aku- " Ucapan Yama terhenti saat ia mencium tangannya. Lantas ia mencium mantelnya untuk lebih memastikan aroma yang menguar kuat dari tubuhnya. Wangi yang berbeda. Padahal seingatnya, ia memakai parfum jeruk lemon hari ini.

" Amaryllis ? " sahut Marlion. Ia menatap temannya dengan tatapan geli. " Kau gagal kan? Aku yakin kau baru saja minum. Masih ada aroma darah yang manis dari bibirmu. " Yama terdiam . Ia menatap Marlion dengan tatapan datar. Seulas senyum simpul mengembang di bibirnya. "Hmm, begitulah. Ada darah yang sangat menggoda tadi."Marlion tertawa geli.

"Sudah ku duga kau akan gagal. Sebaiknya hentikan percobaan anehmu itu. Kau tidak bisa merubah kebiasaan kita untuk minum darah setiap hari dari tablet darah dan maksimal 1 mangsa setiap minggu. Kita adalah vampir dan darah adalah makanan utama kita."
Yama tersenyum sinis. "Aku hanya mencoba hal baru."

" Terserah kau saja. " Marlion menendang-nendang dedaunan kering tanpa semangat. "Jadi apa kau berhasil menangkapnya?"

" Tidak. Tapi aku kenal aroma mereka. "

" Mereka? Maksudmu lebih dari satu? " serbu Marlion cepat.

" Ya. Mereka itu teman kita. Aku akan memastikan semuanya pada mereka. Pasti ada alasan untuk ini semua. "

" Ya, pasti untuk menghidupkan dia, " gumam Marlion pelan.

" Dia? " tanya Yama.

" Ya, tentu saja Arthur-sama , pemimpin klan Kurochiki sebelum Sho-sama. Keadaan tak menyenangkan di kerajaan ini membutuhkan lebih dari satu vampir murni. Apalagi putri Arthur-sama menghilang. Sho-sama tidak mengatakan apapun mengenai itu. " Marlion melirik cemas ke arah Yama saat mengatakan putri Athur-sama menghilang. Ia merasa lega dengan ekspresi datar Yama yang tidak berubah.

"Memangnya Paman Arthur mempunyai anak ? " tanya Yama heran. Ia sama sekali tak ingat kalau paman Arthur-nya memiliki anak.

" Ya, kemungkinan besar sudah tewas, " gumam Marlion pelan. Ia tak ingin meneruskan pembicaraan berbahaya ini.

" Jadi itu alasan kenapa harus paman Arthur yang dihidupkan? Karena jasad putrinya tidak ada? "

" Mungkin. "



Hunter's Rules
1 "Don't kill vampire after 12 p.m."